Contoh Surat Cinta untuk MOS 11



Matahari menampakan dirinya manis diufuk timur. Memperlihatkan senyum manisnya saat beberapa ratusan siswa dijemur dalam hangat sinarnya. Tak luput degupan jantung yang berdetak hebat, ketika kakak kelas mengintai setiap gerak-gerik kami dengan mata yang tajam. Begitu pula aku, berdiri mematung dengan kucuran keringat mengalir dari pelupuh dahiku, merasakan hawa panas yang membara disekitarku. Mataku terus beradu, memandang disetiap sudut sekolah baruku. Dan sesaat berhenti. Iya, berhenti. Tanpa berkedip. Tanpa melirik. Kedua bola mataku menatap satu tujan, dikamu. Kamu kakak kelasku yang berdiri disana. Menjadi pusat perhatianku dan sejenak mengabaikan suara sound yang menggaung keras mengusik telingaku. Mataku terus berbinar-binar, melihat sosok dirimu dijauh sana dan bagiku itu terasa dekat. Senyum simpul membentuk lengkungan dibibirku, saat aku melihat tingkahmu yang membuatku terpesona. Angin rasanya sejenak meniup disekitar ragaku, memberi rasa yang berbeda disaat aku memandangmu. Entah ini yang namanya apa, aku pun tak tahu. Aku hanya bisa menikmati, sosok dirimu yang sejenak membiusku… karena senyum manismu.

Kamu, sosok yang dapat kuperhatikan dari kejauhan.
Tak ada tindakan lain yang dapat aku lakukan selain memandangmu dari kejauhan. Tiada cara lain yang dapat aku terapkan, selain memperhatikan senyuman…mu. Hanya itu yang dapat aku lakukan, hanya itu yang dapat aku laksanakan. Aku, adik kelas cupu yang mungkin hanya segelintir dari ribuan penggemarmu, tiada apa-apanya, tiada lebih-lebihnya. Aku penggemarmu yang bodoh, aku pengangummu yang pengecut. Hanya dapat memandangmu dari kejauhan, tanpa ada suatu tindakan lebih… mencari tahu siapa namamu misalnya. Nyaliku pun rasanya tak mencukupi untuk melakukan suatu perjuangan… mengetahui kelasmu dimana misalnya. Aku tidak peduli. Aku tidak ambil pusing. Intinya, senyum manismu itu bisa memperbalikan nasib malangku sebagai penggemar tolol menjadi orang yang beruntung karena dapat selalu menikmati senyum manismu itu…. meski dari kejauhan.
Rasanya saat berada didekatmu itu….
Aku fikir, aku hanyalah siswa baru yang dapat memandang senyum manismu itu dari kejauhan. Aku berkecap, diriku ini adalah anak yang tak bisa berada didekatmu, meski  tanpa perkenalan.
Iya, awalnya aku memang beranggapan dan berfikir seperi itu. Namun aku salah. Salah. Ternyata, Tuhan berbaik hati denganku. Ternyata Tuhan melihatku ketika aku berdiri mematung memandang sosokmu dari kejauhan. Ternyata Tuhan mengerti! Ya, akhirnya tanpa ada angin atau badai apapun, aku bisa memandangmu senyummu dari dekat! Tanpa ada sekat! Kamu disana, aku disini. Meski aku sadar, engkau tak mengenal siapa diriku ini.
Engkau tahu kakak kelas yang kukagumi? Tenggorokan ku tercekat… tak tahu harus berkomentar apa saat memandangmu. Hormon adrenalinku memacu jantungku berdegup dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Aliran darahku mengalir mendesir deras dalam pembuluh nadiku. Iya, aku sangat salah tingkah berada didekatmu. Aku terus sibuk menata degupan jantungku ini untuk tetap berdetak teratur, sedangkan kamu disana, asyik dengan duniamu—tanpa memperhatikan diriku yang terus saja salah tingkah menatapmu. Aku tak peduli, yang jelas aku bahagia, sangat bahagia, bisa memandang senyummu.. tanpa ada sekat yang menganggu pandanganku kepadamu…

Aku berharap suratku ini, bisa membuatmu tahu akan diriku… meski tiada tanggapan lebih darimu.
Jemariku terus asik menulis. Rasanya rentetan huruf ini tak membuatku lelah sedikitpun akan menulis surat untuk sosok dirimu yang kukagumi. Namun otakku rasanya capek, jika setiap kata yang keluar harus aku saring beberapa kali agar tidak terlihat bodoh dihadapanmu.
Disini, disurat yang kutulis. Aku hanya berharap, dirimu yang aku kagumi bisa membaca pengertian kekagumanku kepada dirimu dengan kata-kata yang mewakili perasaanku. Meski tanpa ada tatapan, ucapan, ataupun perkenalan.

WithLove

Artikel Terkait
SuratCinta1 | SuratCinta2 | SuratCinta3 | SuratCinta4 | SuratCinta5 | SuratCInta6 | 
SuratCInta7 | SUratCinta8 | SuratCinta9 | SuratCinta10 | SuratCinta11

Postingan populer dari blog ini

Biyung 1 | Geguritan | Puisi Jawa.

Jaman Saiki | GEGURITAN | Puisi Jawa

Biyung | GEGURITAN | Puisi Jawa